Sepotong diskusi di malam hari

Tentang Cinta

Cinta… apa yang bisa kita katakan tentang cinta. Kata Kahlil Gibran, “Ketika cinta mendatangimu, ikutlah bersamanya…???” (asli saya ga ingat sama sekali sama sajak cinta paling terkenal tadi). Sajak Kahlil Gibran yang paling saya suka justru yang berjudul On Marriage.

…But let there be spaces in your togetherness,
and let the winds of the heavens dance between you.
Love one another but make not a bond of love.
Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.
Fill each other’s cup but drink not from one cup.
Give one another of your bread but eat not from the same loaf.
Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone,
Even as the strings af a lute are alone though they quiver with the same music.
Give your hearts, but not into each other’s keeping,
for only the hand of Life can contain your hearts,
And stand together, yet not too near together,
for the pillars of the temple stand apart,
and the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow
.

Pertama membaca sajak tadi membuat saya tersentil, tidak sampai menggampar saya, cukup menyentil. Saya belum mencapai level tersebut, “komitmen merupakan suatu kesatuan dari dua individu yang bebas dan berbeda”. Saya tahu dan mengerti ada konsep seperti itu mengenai suatu hubungan. Tapi melaksanakannya adalah hal yang berbeda. Sulit. Cinta, apapun definisinya, tumbuh seiring dengan rasa ingin memiliki. Dan rasa ingin memiliki akan membawa kita kita pada egoisme terhadap pasangan. Ingin selalu diperhatikan, ingin selalu menghabiskan waktu bersama.

Freddy Mercury bilang, “… too much love will kill you in the end.”. Cinta yang berlebihan itu berbahaya dan tidak sehat. Dan seperti kata teman saya, “Pasangan kita adalah salah satu, bukan pusat kebahagiaan kita.”. Maka Lusi Rahmawati akan bernyanyi, “Ternyata tanpamu langit masih biru, ternyata tanpamu bunga pun tak layu, ternyata dunia tak berhenti berputar walau kau bukan milikku…”. Pasangan kita bukan satu-satunya sumber kebahagiaan kita. Dunia bukan hanya tentang kita dan pasangan. Ada keriuhan bersama sahabat, kehangatan bersama keluarga, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita datangi, mengejar mimpi. Kalau pasangan tidak harus selalu ada untuk kita, kenapa tidak kita mengejar kebahagiaan kita sendiri. Sebelum berkomitmen kita sendiri, dan bahagia. Ketika akhirnya hubungan kita kandas pun kita akan kembali sendiri, dan seharusnya level kebahagiaan kita paling tidak sama dengan saat ketika kita belum menjalin hubungan dengan pasangan. Sedih pasti, tapi tidak lantas membuat kita terpuruk.

Tentang Perpisahan (sepertinya lebih mengenai Pengkhianatan)

Dalam 3 tahun terakhir saya menyadari kalau terkadang perpisahan dalam suatu hubungan merupakan jalan keluar yang paling baik bagi kedua belah pihak, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan mereka. Tapi dengan catatan : 1) Perpisahan merupakan jalan terakhir ketika upaya-upaya memperbaiki hubungan lain yang diusahakan ternyata gagal, dan 2) Dilihat dari konflik yang membawa kepada perpisahan. Saya ingin mengatakan kalau sejauh ini menurut saya dosa besar dalam suatu hubungan adalah PENGKHIANATAN. Saya memulai suatu hubungan dari cinta, ketika cinta itu terbagi maka sepertinya hubungan saya akan berakhir dari sana. Meskipun toh saya menyadari ada banyak alasan (kalau tidak bisa disebut sebagai pembenaran) untuk pengkhianatan. Mungkin ada yang kurang dari saya yang bisa pasangan saya temukan dari orang lain. Tapi kembali ke petuah lama, “TERIMALAH PASANGAN KITA APA ADANYA sebagai satu paket individu, dengan kelebihan dan kekurangannya.”

Tapi pada dasarnya MENERIMA PASANGAN KITA APA ADANYA tidak bisa dilaksanakan 100 persen. Kita dan pasangan adalah 2 individu yang berbeda. Komitmen yang dilandasi cinta membawa kita pada banyak kompromi dan toleransi, terutama terhadap sifat-sifat pasangan yang mungkin kurang berkenan bagi kita, juga sebaliknya terhadap hal-hal yang tidak disukai pasangan dari kita. Selama menjalani suatu hubungan, kita akan menjadi orang lain (yang lebih baik pastinya) untuk menjembatani perbedaan-perbedaan tadi. Memberi masukan kepada pasangan untuk menjadi lebih baik bagi kedua belah pihak, bagi hubungan, tapi ketika pasangan tidak bisa sepenuhnya menjadi seperti yang kita inginkan, pada akhirnya cinta akan membawa kita pada PENGERTIAN dan PENERIMAAN terhadap pasangan kita apa adanya.

Maka kenapa kita harus membagi hati kita untuk orang lain? Cinta memang bisa datang kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Komitmen kita terhadap suatu hubungan yang kita pelihara dilihat dari bagaimana kita menyikapi perasaan simpati kepada orang lain tadi. Bahwa kita sudah memiliki pasangan yang seharusnya bisa kita terima segala kekurangan dan kelebihannya.

Tentang Pernikahan

Bagi saya, menikah itu seperti perhitungan matematis, kombinasi mana dari elemen-elemennya yang bisa memberikan result paling baik. Menikah tidak melulu karena cinta. Cinta itu tidak absolut. Cinta bisa tumbuh dan ditumbuhkan, bisa aus dan dilupakan, untuk kemudian ditumbuhkan kembali. Pernikahan, dan segala keruwetan (baca: tanggung jawab) yang menunggu ke depannya, membutuhkan lebih dari sekedar cinta, materi misalnya. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya akan lebih mudah dengan adanya uang (yang halal pastinya). Kesiapan mental. Seberapa siap anda untuk menikah? Anda akan menghabiskan seumur hidup anda bersama orang yang akan anda nikahi. Bisakah anda bekerjasama yang baik dengannya, karena pernikahan merupakan salah satu bentuk ikatan kerjasama? Ketika cinta mulai mendingin, konflik-konflik yang mulai muncul ke permukaan seiring dengan kompromi yang ternyata tidak lagi semudah ketika masih berpacaran, sifat asli pasangan yang mulai terungkap, apakah kita masih bisa komit pada janji pernikahan yang pernah kita ucapkan? Perjalanan rumah tangga memang tidak selalu “mengerikan” seperti yang saya singgung, pun tidak mungkin akan selalu mulus. Cinta yang saat ini kita genggam, apakah sudah cukup meyakinkan kita untuk melanjutkan ke pernikahan?

(… nb: topik terakhir, kok rasa-rasanya saya seperti mengancam? mungkin pertanyaan-pertanyaan itu lebih tepat saya tujukan ke diri saya sendiri…
bukannya saya akan menikah dalam waktu dekat, tapi lebih sebagai wacana ketika suatu saat saya memutuskan untuk “akan menikah dengan seseorang”,
karena daripada melihat indahnya pernikahan, saya lebih memikirkan “yang tidak indah” yang mungkin terjadi dalam suatu pernikahan,
bukan antipati, tapi berjaga-jaga dari segala kemungkinan, apakah saya siap mendampingi suami saya tidak hanya ketika keadaan baik tapi juga dalam keadaan buruk?)

MENGELUH…

Tulisan ini saya tulis dan posting hari ini, Kamis, 19 Februari 2009:

Saya ingin dan akan berusaha untuk tidak banyak mengeluh. Kenapa? Karena akhir-akhir ini saya terganggu dengan orang-orang di sekitar saya yang mengeluh setiap saat, untuk hal-hal kecil yang mungkin “tidak amat sangat”merugikan. Mungkin pula mengeluh sudah menjadi semacam kebiasaan, seperti halnya menggosip. Ketika melihat mereka, saya seperti melihat diri saya sendiri. Betapa saya pun sebenarnya sangat suka mengeluhkan hal-hal kecil yang dalam beberapa kasus merupakan kesalahan saya.

“Saya laparrr…”
“Ga beli makan?”
“Males kemana-mana…”

Maka saya tidak bisa mengatakan tidak suka orang yang terlalu mengeluh. Karena toh saya pun seorang pengeluh. Saya harus memperbaiki diri saya sendiri dulu baru saya bisa bilang, “Sebenarnya kalau kalian mau melihat lebih luas, ada orang lain yang lebih rugi daripada kalian.” Seperti yang saya bilang di bawah, saya harus lebih banyak beryukur…

Yang ini saya tulis di Hari Senin, 16 Februari 2009, baru saya posting hari ini:

Manusia, selalu tidak pernah puas, sudah sifatnya katanya. Ilmu ekonomi pertama yang saya dapat mengatakan kalau pada dasarnya kebutuhan manusia adalah tak terbatas, sementara pemuas kebutuhan manusia sifatnya terbatas, maka lahirlah yang namanya ekonomi. Bagaimana mengelola yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan yang tak terbatas.

Mengeluh, hampir setiap saat diucapkan oleh masing-masing dari sekian milyar penduduk dunia. Saya tidak sedang mengeluh saat ini, but saya sedang mengingat saat-saat dimana saya biasanya mengeluh. Biasanya ketika pekerjaan saya sedang banyak-banyaknya, setumpuk pekerjaan dengan deadline mepet yang membuat setiap detik sangat berharga (no, when I’m busy, I didn’t really at those point, saya masih bisa mengambil air minum di pantry dan “mengunjungi” kamar mandi selama 15menit), saya akan mengeluh… bla… bla… bla… pengen off. Tapi ketika seperti hari ini, jobless dan ndak ada boss, saya pengen sibuk, pengen ngerjain sesuatu. Manusia…

Untungnya mood saya sedang bagus sejak minggu kemarin, dunno why, tapi bagus kan? Mungkin kalau dulu2 saya merasa tidak puas dengan hidup saya, bosan dengan rutinitas yang monoton, akhir-akhir ini saya lebih memilih untuk untuk berkompromi dan menerima hidup saya saat ini dengan legowo, bersyukur. Bersyukur itu gampang-gampang susah, menerima baik-buruk yang terjadi dalam hidup kita sebagai ketetapan yang baik bagi kita, mencoba untuk menggali makna di balik setiap peristiwa. Bersyukur tidak lantas kita adem-ayem saja dengan hidup kita sekarang. Bermimpi itu boleh, disarankan malah, untuk sesuatu yang lebih tinggi daripada yang kita miliki sekarang. Mimpi akan menjadi motivasi bagi kita untuk berusaha menjadi yang terbaik, bekerja lebih baik. Tapi impian tadi tidak menjadi harga mati. Dengan bersyukur, kita tetap berikhtiar, tapi kalaupun impian kita tidak tercapai pun tidak menjadi masalah, itu masalah rejeki dan bukan rejeki.

Kembali ke saya, padahal seminggu kemarin hari-hari saya habiskan dengan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Pulang, makan, sholat, tidur, bangun, tidur lagi, sendirian, dan paruh terakhir jam kerja saya hari ini saya habiskan dengan tidak melakukan apa-apa, saya toh fine-fine saja. Tidak bete, tidak juga gembira ria. I’m fine. Bukannya apatis? Enggak ah, just trying to make a deal with my life. Saya toh bukannya selebriti yang digosipkan setiap hari, disorot flash camera setiap saat. Bukan Donald Trumph yang super sibuk mengurusi bisnis, bukan pula Riyanni Djangkaru yang mondar-mandir dari hutan yang satu ke pelosok yang lain, berakit di sungai yang ini lalu mengarungi laut yang itu. I’m just an ordinary people, living an ordinary life. Bersyukur!!!

Tentang film

Film yang saya tonton akhir minggu ini, Shawshank Redemption-nya Morgan Freeman dan Lord of War-nya Nicholas Cage. Saya merekomendasikan untuk menonton yang pertama, Shawshank Redemption.

Morgan Freeman menurut saya play as a supporting role di film ini. Pemeran utamanya adalah dia yang menjadi Andy Dufresne. Saya ga kenal sama yang main tapi kayaknya bakal jadi favorit saya deh. Kurang lebihnya menceritakan tentang kehidupan di penjara. Bagaimana seorang penghuni baru akan menghadapi hari-hari pertamanya di penjara. Ga hanya rocker, penjahat pun (setidaknya di film ini), juga manusia, yang bisa merasa takut ketika tiba-tiba harus masuk ke lingkungan dimana peraturan yang berlaku di sana hanya hukum rimba, dan kemungkinan pelecehan seksual (terutama terhadap napi baru) hampir pasti terjadi. Ketika seorang napi baru sudah berhasil melewati hari-hari pertamanya tanpa menjadi gila, tantangan berikutnya adalah bertahan (untuk tidak gila dan tidak mati) selama menjalani masa hukumannya. Bagi napi yang hanya divonis beberapa tahun, mungkin penjara sekedar menjadi tempat persinggahan, karena toh pada akhirnya mereka akan bebas setelah menyelesaikan masa hukumannya. Tapi bagi mereka yang dihukum seumur hidup misalnya, cara yang paling masuk akal bagi mereka untuk bertahan adalah dengan membiarkan dirinya untuk “terinstitusi”, kata Morgan Freeman. Membunuh harapan dan menerima penjara sebagai “tujuan akhir”, berkompromi dan hidup dengannya. Yang membahayakan dari “terinstitusi” adalah ketika napi yang sudah menghabiskan puluhan tahun hidupnya di penjara harus kembali ke dunia luar, bersosialisasi dan bekerja. Shock culture yang terjadi kalau tidak membuat mantan napi tersebut stres, yang lebih parah lagi, seperti yang dilakukan oleh Brooks, adalah memutuskan untuk mati dengan cara gantung diri. Penjara sudah menjadi dunia mereka. Mungkin mereka bertahan di penjara dengan membangun kekuasaan, tapi begitu mereka bebas, mereka bukan siapa-siapa, dan bahkan tidak tahu harus memulai hidupnya darimana.

Tentang lagu

3 hari yang lalu Tak Ada Yang Bisa-nya Andra ‘n The BackBone nangkring di posisi pertama Chart Inbox (program musik di SCTV, produk dari musictainment yang sedang happening saat ini. Membuat saya bertanya-tanya, kenapa juga ga dari dulu2, akhir tahun 200an misalnya, yang menurut saya merupakan saat panas2nya industri musik, dan yang bisa saya temukan di TV hanya Clear Top 10 yang tayang seminggu sekali dengan durasi 30 menit). Seperti halnya dengan Sempurna, single pertama di album kedua Andra ‘n The Backbone ini juga menjadi favorit saya. Lagu dengan musik akustik yang minim efek selalu menyenangkan buat saya. Sederhana dan manis. Meskipun saya sama sekali buta nada, tapi denting gitar dalam sebuah lagu selalu menarik perhatian (telinga) saya. Kalau boleh mengkhayal, wishing one day akan ada seorang satria bergitar (bukan Rhoma Irama pastinya) yang bernyanyi untuk saya, sambil memetik gitar ^.^

Lalu tentang video klipnya. Sama manisnya. Mengingatkan saya pada klip Mahadewi-nya Padi. Yang paling saya suka… mereka memakai kemeja warna gelap yang lengannya digulung sampai siku. Maka kenapa dulu saya naksir berat sama Ari-nya Padi (waktu dia masih “agak lebih kecil” dari yang sekarang). Kenapa memangnya?

1. Warna favorit saya hitam… dan merah
2. Pria yang memakai kemeja yang lengannya digulung sampai ke siku adalah seksi menurut saya.
Alasannya karena bagian tubuh pria yang paling saya suka adalah LENGANnya. Waktu SMP ada teman laki2 saya yang “kurang cowok” tapi dia punya lengan yang bagusss… lengannya “cowok banget” dan banyak uratnya, huehehehe… enggak kok saya ga naksir dia, tapi lengannya jadi favorit saya.
Kenapa sih kok saya suka banget sama yang namanya lengan pria? Uhmmm… agak dalem nie alasannya. Karena menurut saya, pria itu kan pada kodratnya sebagai pelindung bagi wanita yang disayangi (ga hanya pacar atau istri, tapi juga ibu, dan anaknya –> family man, pria yang sedang menggendong anaknya juga masuk kategori seksi buat saya). Nah, lengan pria seharusnya terlihat kokoh, bisa melindungi dan memberi kehangatan, rasa aman. Dan saya selalu kagum sama kemampuan pria yang “biasanya” bisa melakukan apa saja. Dari membetulkan genting bocor sampai membuat perabotan. Ya pria ga harus seperti itu sie, tapi kalau ada yang serba bisa seperti McGyver bisa membuat saya terkagum2.

Kayaknya tulisan ini sudah melenceng dari membicarakan tentang lagu jadi membicarakan tentang kind of my favorit guy. Tapi sebenarnya, saya orangnya mudah simpati sama banyak macam pria. Banyak macam? Iya karena menurut saya setiap pria menarik dengan caranya masing-masing. Saya bisa naksir dari yang namanya pria pintar, pria bijak, pria bersuara bagus, sampai pria berambut ikal (saya punya ketertarikan khusus dengan pria berambut ikal). Lheee… fisik semua Mbak? Lah, kalau pria yang kita taksir bukan teman kita, apa lagi yang bisa membuat kita tertarik selain daya tarik fisik, iya kan? Saya ga percaya dengan “cinta pada pandangan pertama” karena first impression-nya adalah ketertarikan fisik. Hayooo… siapa yang mau meng-counter pernyataan saya??? Karena fisik adalah sesuatu yang sifatnya temporary, meskipun senang2 malu, tapi pujian atas fisik seharusnya tidak membuat kita terlalu bangga kan?

Ketika aku menangkap sosokmu dalam benak
tanpa sengaja
Aku mencetakmu dalam rasa
Kau, terlalu angkuh karena merasa sempurna
Tapi kau adalah kehangatan yang perlahan membara
Kadang terlalu tenang untuk menyadari
bahwa aku bergejolak
Aku sudah terkotak

Sepatu baru…

Today akhirnya saya mengganti sepatu kerja saya, karena imel dari MeOnG. Memang sepatu kerja saya itu bututnya sudah di luar batas kewajaran, saya menyadari hal itu. Saya juga sudah lama mendapat ganti sepatu kerja yang baru, yang saya telantarkan begitu saja di bawah meja kerja saya. Sepatu kerja saya itu dulunya bagus, kemudian suatu hari saya cuci lheee… kok luntur. Kejahatan terhadap sepatu kerja saya diperparah lagi dengan kekerasan antar sepatu yang biasa terjadi pas saya sholat di Mesjid (diinjak2, ditumpuk sama sepatu lain, dan pernah ga tau gimana ceritanya salah satu sepatu kerja saya itu “mencelat” jauh dari sodaranya) serta kebiasaan saya memakai sepatu dengan “tidak baik”. Saya lebih suka “nyeker” (tapi tetap berkaos kaki) ketika di kantor. Lha wong kantor saya ada karpetnya. Dan menginjak sepatu kerja saya ketika bekerja di meja kerja saya.

Saking bututnya sepatu kerja saya, pernah ada rekan kerja saya yang bilang begini:

“Mbak, saya kemarin lihat Mbak Citra dibonceng sama temannya malam2.
Saya ragu itu Mbak Citra apa bukan yak?
Lalu saya lihat sepatunya, ternyata “uelekkk…”
Berarti benar yang saya lihat Mbak Citra…”

Saya membatin, “kurang ajarrr… masak saya dikenali dari bututnya sepatu kerja saya. Cemoohan2 terhadap sepatu kerja saya sudah dilontarkan oleh banyak orang, tapi yah saya kekeuh memakai itu sepatu butut. Kenapa? Mungkin sama halnya beberapa dari kita ada  yang merasakan pernah mempunyai yang namanya guling atau selimut kesayangan yang tanpa benda2 keramat tadi kita jadi ga bisa tidur, ga tenang. Jadi biarpun barang2 tadi sudah kumel lecek beluwek bau pesing tetep aja dibawa kemana-mana. Seperti itu cinta saya sama sepatu kerja pertama saya (halahhh…)

But saya menyadari klo penampilan kita menunjukkan bagaimana kita menghargai diri kita sendiri. Meskipun dengan berat hati akhirnya saya mengganti sepatu kerja butut saya dengan yang baru, cihuuuiii…

Saya buang lah itu sepatu butut ke tempat sampah. Ternyata setelah dibuang pun sang sepatu butut masih juga membuat masalah. Baunya menyebar ke seluruh kantor. Saya ga percaya, masa sie sepatu saya segitu baunya??? Tapi rekan kerja saya dengan semangat 45 berusaha meyakinkan saya klo sepatu saya itu bau. Malah rekan kerja saya yang lain, yang kebetulan meja kerjanya masih dalam radius tempat sampah dimana saya membuang sepatu saya, menyemprotkan Bay Fresh ke sekitarnya. Saya masih juga bertanya2, masa sie sepatu saya segitu baunya??? Ada niat untuk ngendus2 itu sepatu di tempat sampah, tapi saya urungkan niat jahat tadi, dan membiarkan sepatu kerja butut saya itu Rest In Peace di tempat pembuangannya yang sekarang.

Every rose has its torn… (loh loh loh kok jadi tittle lagunya Poison, I mean every job has its own SWOT)

“CCMP itu kok kayaknya ga ada job description yang jelas yah…”

Ada kalimat seperti itu yang ditujukan ke section saya. Dan itu sedikit membuat… pippp… pippp… pippp… ketel saya sedikit mendidih. Meskipun toh kalimat tersebut dilihat dari sisi tertentu ada benarnya. Pekerjaan saya memang 75 persennya by request, selebihnya yang 25 persen adalah pekerjaan rutin bulanan, yaitu Inventory Closing (karena perusahaan saya menggunakan sistem persediaan periodik), dan Loss Analysis. Dari tittle-nya saja, Cost Control and Management Planning (CCMP), nature pekerjaan saya memang berbeda dengan Finance and Accounting yang sifatnya daily.  Di Finance and Accounting, dengan lingkup pekerjaan kurang lebihnya mengenai pembukuan unsur2 laporan keuangan serta pengelolaan dan pembiayaan uang, akan selalu ada pekerjaan rutin yang dikerjaan setiap hari, karena yah… transaksi terjadi setiap hari.

But ya itu tadi, saya kok agak mak “teng” gitu dibilang… kasarannya… ga jelas kerjaannya apa. Saya bilang, yah memang nature pekerjaan masing2 bagian berbeda. Untuk pekerjaan2 tertentu yang sifatnya improving atau developing something misalnya, terkadang tidak ada deadline yang pasti kapan pekerjaan tersebut harus diselesaikan. Di Finance and Accounting misalnya, pekerjaan saya tidak bisa dilihat dari ada tidaknya Transfer Slip yang saya terbitkan setiap harinya.

Dan memang, karena sebagian besar pekerjaan saya by request, ketika banyak request dari departemen lain maka kami akan sangat sibuk, tapi ketika tidak ada request sama sekali kami bisa “ngglondhang”… jobless… So apa yang bisa saya lakukan di saat tidak ada request sama sekali? Improve myself kah, belajar, jadi ingat semasa sekolah ketika tidak ada PR kita biasa disarankan untuk mengulang pelajaran. Hayooo… berapa banyak diantara kita yang belajar ketika tidak ada PR atau ujian? Mbehehehe…

Bete…

“Mas, kita kan sudah beberapa kali minta revisi Intermediate Part List untuk Update Costing. Ngomong2, dokumen aslinya kok ga pernah masuk ke aku yah? Ini Intermediate Part List kan statusnya jadi pending terus.”

“Revisi yang kemarin tah?”

“Bukan, yang sebelum-sebelumnya. Kan kita sudah 2 atau 3 kali minta diterbitkan revisi oleh Engineering kan?”

(bingunggg…)

“Itu loh Mas, klo kita bikin Update Costing kan pake copy Intermediate Part List, dokumen aslinya harusnya masuk ke aku.”

(rekan kerja saya lalu mengaduk2 tumpukan ajaib yang ada di mejanya)

“Ga ketemu. Ga ada di sini.”

(lalu dia melanjutkan pekerjaannya)

(gantian saya yang dengan dongkol mengaduk2 tumpukan ajaib rekan kerja saya tadi. Sampai ke kardus kertas bekas yang ada di bawah mejanya, barangkali terselip, ikut terbuang. Tapi dokumen yang saya cari memang ga ada.)

 

Dalam kedongkolan saya berpikir, berlebihankah saya, dongkol karena masalah kecil seperti ini. Tidak bisa menemukan dokumen karena filing job yang tidak dilaksanakan dengan semestinya. Hal ini terjadi bukan untuk yang pertama kalinya. Dan pencarian saya selalu berakhir dengan membereskan tumpukan ajaib rekan kerja saya (kenapa saya sebut tumpukan ajaib, karena ketika kita sedang sibuk2nya, antara dokumen penting, dokumen salah cetak, atau sekedar note di selembar kertas, kita tumpuk begitu saya. Baru ketika pekerjaan agak senggang, biasanya saya, menjadi bertanya-tanya kenapa tiba-tiba muncul gundukan kertas di meja saya).

Saya meskipun tidak terlalu strict sama yang namanya kerapihan, tapi berusaha bagaimana caranya agar pekerjaan saya menjadi lebih mudah, salah satunya dengan cara filing dokumen dengan baik. Bagi saya, pekerjaan klerikal sederhana semacam filing dokumen menjadi sangat penting ketika misalnya, saya berusaha men-trace back revisi-revisi yang sudah dilakukan terhadap suatu produk. Atau ketika ada complain dari departemen lain yang ditujukan ke section saya, kami bisa menunjukkan dokumen asli yang melegalkan tindakan kami. Meskipun saat ini gerakan paperless seiring dengan perkembangan teknologi penyimpanan data tengah digalakkan di perusahaan-perusahaan, tetapi keabsahan dokumen hardcopy yang melegalkan suatu tindakan ekonomi masih belum bisa digantikan. Maka filing dokumen menjadi pekerjaan yang penting, meskipun bagi para penggunanya (bukan orang yang melakukan filing dokumen), pekerjaan tersebut dipandang sepele.

Saya bisa mengerti kalau rekan kerja saya yang salah satu pekerjaannya adalah filing Transfer Slip suka teriak-teriak, minta supaya Transfer Slip yang dipinjam oleh orang-orang Accounting segera dikembalikan. Saya pun, seperti cerita saya di atas tadi, masih suka dongkol dengan rekan kerja saya yang kebetulan cowok, yang kata MeOnG, “cowok memang sudah kodratnya lemah dalam hal kerapihan.”

Tapi kata teman saya, saya ini berwajah ekspresif, maksudnya bagaimanapun suasana hati saya, tergambar jelas di raut wajah saya.  Mungkin karena itu rekan kerja saya tadi jadi sedikit berubah. Setiap kali meminjam dokumen dari saya, setelah selesai langsung dikembalikan dengan rapi seperti saat dia meminjamnya dari saya. Mungkin serem melihat wajah sangar saya kali yahhh…

Pengemis

Kadang kita bilang seperti ini, “Ih, dia itu masih muda, seharusnya masih bisa bekerja, tapi kok mengemis yah?”

Atau seperti ini, “Mereka apa ga malu ya, masih muda tapi sudah mengemis?”

Kadang kita juga menjadi penyedekah yang memilih, maksudnya kita memilih bersedekah pada pengemis yang menurut kita “layak” untuk mengemis. Yang sudah tua misalnya, atau yang kucel bucel banget, kurus, tidak terawat.

Tanpa bermaksud menutup mata, memang banyak pengemis yang “nakal”. Mereka sebenarnya masih mampu untuk bekerja, tapi lebih memilih cara yang termudah, yaitu mengemis. Dulu pas saya kuliah, ada satu keluarga pengemis yang langganan muter di FE-UB. Yang paling sering kita jumpai yaitu si anak yang namanya Ulfa (kata temen-temen, ga tau apa mereka ngajak kenalan atau gimana). Nah, sejak pertemuan pertama saya dengan si Ulfa tadi di semester awal kuliah, sampai saya sudah agak bangkotan di kampus, saya perhatikan si Ulfa ini kok semakin subur saja badannya, kulitnya semakin bersih dan putih (jangan-jangan dia perawatan di Natasha SkinCare, oh my god, saya saja ga mampu), bajunya juga bagus-bagus. Lalu saya dengar dari penjual Pangsit Mie di depan kampus (saya juga ga tau gimana ceritanya si Bapak ini bisa ngobrol sama Ulfa), kalau keluarganya si Ulfa ini punya empat buah rumah dan berencana untuk membeli sebuah rumah lagi. Saya ga mikirin kayak apa rumahnya, tapi berarti kan mereka punya duit lebih dari cukup daripada untuk bertahan hidup.

Lalu ada lagi pengemis langganan di kampus saya, saya ga tau namanya, kita anggap saja dia adik sahabat saya si Dewi (apalagi ini, gimana ceritanya bisa jadi adiknya si Dewi?). Kalau si Ulfa terkesan kalem, si Adik ini minta ampun dah kurang ajarnya. Udah dia mintanya maksa, kalau ga dikasih bakal ngomel-ngomel, kadang misuh-misuh, udah gitu, kalau yang dimintain kabur, bakal diikutin sama si Adik tadi. Dan dia itu yah, saya kasih tau, mintanya ga tau diri! Pernah yah pas saya makan Mie Ayam seharga 2500, di akhir bulan, ketika dompet lagi tipis-tipisnya, si Adik ini tiba-tiba datang, dengan menggenggam sebatang coklat SilverQueen dan seplastik Pepsi Blue, lalu bilang seperti ini,

“Mbak, minta uang 4000 buat beli makan…”

Doenggg… gila apa, saya aja ngirit-ngirit beli makannya, si Adik yang udah bawa SilverQueen n Pepsi Blue (kurang lebih nilainya 7000an yah), malah minta duit 4000 buat beli makan. Saya acuhkan dia dan as usual, si Adik ini ngomel-ngomel ga karuan. Lalu…

“3000 aja wes Mbak…”

Gileee… penawaran diturunkan, emang pasarrr… Tapi tetap saya acuhkan sampai dia capek sendiri, meninggalkan saya untuk mencari korban berikutnya.

Saya pernah lihat yah, ini beneran loh, kisah nyata, dia dikasih duit cepek sama seorang Mas-mas, tau ga si Adik bilang apa, bukan terima kasih, tapi,

“Mas-mas, duit seratus bisa buat beli apa?”

Dan setelah melempar sekeping duit tadi ke meja, dia meninggalkan si Mas. Huahahaha… bener-bener dah ni bocah, mungkin karena dia dapetnya kurang banyak dari penawarannya yah, kasian gitu si Mas.

Demikianlah sedikit pengalaman saya dengan pengemis nakal. Tapi… tau ga sieee… justru ketika kita disibukkan dengan rutinitas sehari-hari, berangkat pagi-pulang malam, kadang masih harus masuk di kala weekend, dan kita tidak sempat untuk bersedekah ke panti asuhan, atau masjid misalnya, keberadaan pengemis-pengemis ini yang membuat kita bisa menunaikan kewajiban atas harta kita kepada fakir miskin, tanpa harus menilai “layak-tidaknya” mereka menjadi pengemis, menurut kita.

…untuk syarat usia menjadi hakim agung dalam revisi UU MA diturunkan menjadi, 45 tahun.
Sumber : www.hukumonline.com/detail.asp?id=20175&cl=Berita

Jakarta - DPR menyetujui usia pensiun untuk hakim agung 70 tahun.
Sumber : www.detiknews.com/prokontra/detail/2008/09/22/074207/1010041/612/usia-pensiun-hakim-agung-jadi-70-tahun

Tentang peraturan tersebut, berikut cuplikan bincang-bincang saya dengan teman saya yang tidak mau disebut namanya (wualahhh…) :

“Kenapa yah, klo mo jadi pejabat negara (dalam tulisan ini, Hakim Agung), usia minimalnya dipatok 45 tahun?”

“Kenapa memangnya?”

“Yah, kan udah tua.”

“Justru mungkin karena sudah tua, diharapkan lebih bijaksana. Sudah tua, berarti sudah banyak merasakan pahit-manis kehidupan, diharapkan pertimbangannya lebih luas. Sudah tua, mungkin sudah banyak yang dicapai, diharapkan ambisi-ambisi keduniawian tidak lagi semeledak-meledak ketika masih muda.”

“Sudah tua, lebih ingat mati, jadi lebih berhati-hati.”

“Iya bisa juga.”

“Tapi biasanya yang muda yang idealis.”

“Awalnya idealis. Tapi banyak juga mereka-mereka yang idealis akhirnya menjilat ludah sendiri. Mereka menjadi sosok-sosok yang dulu pernah mereka tentang dan kecam di bangku kuliah. Politik itu kotor.”

“Kata orang, dalam politik, yang salah bisa jadi benar, yang benar bisa jadi salah.”

“Politik yang kotor seperti lumpur, merembesi celah-celah kehidupan, menjangkiti aspek-aspek sosial.”

“Tapi politik itu menggoda.”

“Seperti bakso mungkin yah?”

“Elu kaleee…”

“Lalu tentang usia pensiun Hakim Agung, diperpanjang 5 tahun menjadi 70 tahun. Udah uzur… mana bisa kerja? Kapan hari saja Si Bapak Harifin Tumpa ambruk saat pelantikan Hakim Agung yah, pantas klo masyarakat meragukan kapabilitasnya.”

“Dia bilang menjadi Hakim Agung sama sekali tidak kaitannya dengan kemampuan fisik, memangnya atlet. Selama otak masih bisa bekerja dengan baik, seharusnya ga ada masalah.”

“Nah itu, biasanya orang klo udah tua kan mulai dijangkiti penyakit pikun, alzheimer gitu.”

“Lah, kan saya bilang selama otak masih bisa bekerja dengan baik. Klo pikun kan berarti otak sudah tidak bisa bekerja dengan baik. Lagipula, kemampuan otak bisa diasah dengan misalnya banyak membaca, banyak berpikir. Dan mereka2 yang terpilih menjadi Hakim Agung sudah semestinya berasal dari golongan cendekiawan. Memangnya kita, banyak membaca, tapi yang dibaca comment temen2 di ef es or ef be.”

“Whuahahaha… iya iya.”

“Tapi ya, katanya iklan susu nie, fisik dan otak saling menunjang. Otak ngejos tapi klo fisik ga memadai, kayak misalnya insidennya Pak Harifin Tumpa tadi, dengan padatnya aktifitas Hakim Agung, bakalan cepet capek, ambruk, ujung2nya ga bisa beraktifitas kan?”

“Eh, saya jadi inget, ada kalimat kayak gini, menjadi Paus merupakan jalan tercepat menuju surga. Karena dengan umur rata2 80an tahun dan aktifitas fisik yang luar biasa, perjalanan ke luar negeri, tidak heran klo seorang Paus biasanya tidak akan lama memegang jabatannya.”

“Ya beda dong, Paus lebih mobile, umatnya kan seluruh dunia.”

“Iya juga, Hakim Agung kita, ke luar negeri paling klo Studi Banding, katanya, studi banding mal di Indonesia dengan mal di luar negeri kali yah?”

“Bukannya DPR yah sering Studi Banding kesana-kemari?”

“Ho oh.”

“He…”

“Apa?”

“Gpp”

Unforgetable moment

Hari ini ketika saya dan teman kerja saya yang juga teman kos saya berangkat kerja, ada kejadian yang luar biasa (menurut saya). Jadi waktu saya dan teman saya sedang menyeberang jalan menuju ke pangkalan jemputan kantor yang akan membawa kami ke kantor. Saya lihat tidak ada mobil yang kami kenal untuk kami tebengi, mbehehehe… Lha kok ndilalah di persimpangan yang lumayan traffic ada mobil yang berhenti. Mau  nebengin kita tah? Tapi kok mobilnya tidak saya kenal. Tapi kok ini mobil ga jalan2 yah? Saya intip lah siapa yang bawa ini mobil. Dan ternyataaa… weitttsss… Si Bapak yang selama ini kami klaim tidak pernah berbaik hati nebengin kita2 yang “keleleran” di jalan menunggu minibus, kecuali klo yang “keleleran” tadi Si …tittt… (mbehehehe… guess who???)

Katanya satu-dua orang teman kantor saya nie, Si Bapak sedikittt… (banget) ada zzrrrttt… zzrrrttt… (apaan tu?) sama saya. Klo gitu kadang kita berencana saya pura2 “keleleran” sendirian. Kita mo ngetes, klo saya sendirian bakal disamperin apa enggak. Klo iya, saya langsung kasih kode dan tadaaa… kroni2 saya yang lagi sembunyi di balik pohon, di belakang tempat sampah, di balik becak, serentak bakal keluar  dan ikut nebeng juga. Klo ga disamperin yah… naseeebbb…

Saya mikir juga, jangan2 Si Bapak ini maksudnya bukannya mo nebengin, tapi cuman mo belok aja. Klo gitu kan maluuu… kayaknya sie gitu, tapi yo ndak po po, udah kejadian, dan jadi PERISTIWA PENTING DALAM SEJARAH, huahahaha…

Next Page »