Sepotong diskusi di malam hari
Tentang Cinta
Cinta… apa yang bisa kita katakan tentang cinta. Kata Kahlil Gibran, “Ketika cinta mendatangimu, ikutlah bersamanya…???” (asli saya ga ingat sama sekali sama sajak cinta paling terkenal tadi). Sajak Kahlil Gibran yang paling saya suka justru yang berjudul On Marriage.
…But let there be spaces in your togetherness,
and let the winds of the heavens dance between you.
Love one another but make not a bond of love.
Let it rather be a moving sea between the shores of your souls.
Fill each other’s cup but drink not from one cup.
Give one another of your bread but eat not from the same loaf.
Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone,
Even as the strings af a lute are alone though they quiver with the same music.
Give your hearts, but not into each other’s keeping,
for only the hand of Life can contain your hearts,
And stand together, yet not too near together,
for the pillars of the temple stand apart,
and the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow.
Pertama membaca sajak tadi membuat saya tersentil, tidak sampai menggampar saya, cukup menyentil. Saya belum mencapai level tersebut, “komitmen merupakan suatu kesatuan dari dua individu yang bebas dan berbeda”. Saya tahu dan mengerti ada konsep seperti itu mengenai suatu hubungan. Tapi melaksanakannya adalah hal yang berbeda. Sulit. Cinta, apapun definisinya, tumbuh seiring dengan rasa ingin memiliki. Dan rasa ingin memiliki akan membawa kita kita pada egoisme terhadap pasangan. Ingin selalu diperhatikan, ingin selalu menghabiskan waktu bersama.
Freddy Mercury bilang, “… too much love will kill you in the end.”. Cinta yang berlebihan itu berbahaya dan tidak sehat. Dan seperti kata teman saya, “Pasangan kita adalah salah satu, bukan pusat kebahagiaan kita.”. Maka Lusi Rahmawati akan bernyanyi, “Ternyata tanpamu langit masih biru, ternyata tanpamu bunga pun tak layu, ternyata dunia tak berhenti berputar walau kau bukan milikku…”. Pasangan kita bukan satu-satunya sumber kebahagiaan kita. Dunia bukan hanya tentang kita dan pasangan. Ada keriuhan bersama sahabat, kehangatan bersama keluarga, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita datangi, mengejar mimpi. Kalau pasangan tidak harus selalu ada untuk kita, kenapa tidak kita mengejar kebahagiaan kita sendiri. Sebelum berkomitmen kita sendiri, dan bahagia. Ketika akhirnya hubungan kita kandas pun kita akan kembali sendiri, dan seharusnya level kebahagiaan kita paling tidak sama dengan saat ketika kita belum menjalin hubungan dengan pasangan. Sedih pasti, tapi tidak lantas membuat kita terpuruk.
Tentang Perpisahan (sepertinya lebih mengenai Pengkhianatan)
Dalam 3 tahun terakhir saya menyadari kalau terkadang perpisahan dalam suatu hubungan merupakan jalan keluar yang paling baik bagi kedua belah pihak, dan pihak-pihak lain yang terkait dengan mereka. Tapi dengan catatan : 1) Perpisahan merupakan jalan terakhir ketika upaya-upaya memperbaiki hubungan lain yang diusahakan ternyata gagal, dan 2) Dilihat dari konflik yang membawa kepada perpisahan. Saya ingin mengatakan kalau sejauh ini menurut saya dosa besar dalam suatu hubungan adalah PENGKHIANATAN. Saya memulai suatu hubungan dari cinta, ketika cinta itu terbagi maka sepertinya hubungan saya akan berakhir dari sana. Meskipun toh saya menyadari ada banyak alasan (kalau tidak bisa disebut sebagai pembenaran) untuk pengkhianatan. Mungkin ada yang kurang dari saya yang bisa pasangan saya temukan dari orang lain. Tapi kembali ke petuah lama, “TERIMALAH PASANGAN KITA APA ADANYA sebagai satu paket individu, dengan kelebihan dan kekurangannya.”
Tapi pada dasarnya MENERIMA PASANGAN KITA APA ADANYA tidak bisa dilaksanakan 100 persen. Kita dan pasangan adalah 2 individu yang berbeda. Komitmen yang dilandasi cinta membawa kita pada banyak kompromi dan toleransi, terutama terhadap sifat-sifat pasangan yang mungkin kurang berkenan bagi kita, juga sebaliknya terhadap hal-hal yang tidak disukai pasangan dari kita. Selama menjalani suatu hubungan, kita akan menjadi orang lain (yang lebih baik pastinya) untuk menjembatani perbedaan-perbedaan tadi. Memberi masukan kepada pasangan untuk menjadi lebih baik bagi kedua belah pihak, bagi hubungan, tapi ketika pasangan tidak bisa sepenuhnya menjadi seperti yang kita inginkan, pada akhirnya cinta akan membawa kita pada PENGERTIAN dan PENERIMAAN terhadap pasangan kita apa adanya.
Maka kenapa kita harus membagi hati kita untuk orang lain? Cinta memang bisa datang kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Komitmen kita terhadap suatu hubungan yang kita pelihara dilihat dari bagaimana kita menyikapi perasaan simpati kepada orang lain tadi. Bahwa kita sudah memiliki pasangan yang seharusnya bisa kita terima segala kekurangan dan kelebihannya.
Tentang Pernikahan
Bagi saya, menikah itu seperti perhitungan matematis, kombinasi mana dari elemen-elemennya yang bisa memberikan result paling baik. Menikah tidak melulu karena cinta. Cinta itu tidak absolut. Cinta bisa tumbuh dan ditumbuhkan, bisa aus dan dilupakan, untuk kemudian ditumbuhkan kembali. Pernikahan, dan segala keruwetan (baca: tanggung jawab) yang menunggu ke depannya, membutuhkan lebih dari sekedar cinta, materi misalnya. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya akan lebih mudah dengan adanya uang (yang halal pastinya). Kesiapan mental. Seberapa siap anda untuk menikah? Anda akan menghabiskan seumur hidup anda bersama orang yang akan anda nikahi. Bisakah anda bekerjasama yang baik dengannya, karena pernikahan merupakan salah satu bentuk ikatan kerjasama? Ketika cinta mulai mendingin, konflik-konflik yang mulai muncul ke permukaan seiring dengan kompromi yang ternyata tidak lagi semudah ketika masih berpacaran, sifat asli pasangan yang mulai terungkap, apakah kita masih bisa komit pada janji pernikahan yang pernah kita ucapkan? Perjalanan rumah tangga memang tidak selalu “mengerikan” seperti yang saya singgung, pun tidak mungkin akan selalu mulus. Cinta yang saat ini kita genggam, apakah sudah cukup meyakinkan kita untuk melanjutkan ke pernikahan?
(… nb: topik terakhir, kok rasa-rasanya saya seperti mengancam? mungkin pertanyaan-pertanyaan itu lebih tepat saya tujukan ke diri saya sendiri…
bukannya saya akan menikah dalam waktu dekat, tapi lebih sebagai wacana ketika suatu saat saya memutuskan untuk “akan menikah dengan seseorang”,
karena daripada melihat indahnya pernikahan, saya lebih memikirkan “yang tidak indah” yang mungkin terjadi dalam suatu pernikahan,
bukan antipati, tapi berjaga-jaga dari segala kemungkinan, apakah saya siap mendampingi suami saya tidak hanya ketika keadaan baik tapi juga dalam keadaan buruk?)
Comments(0)
